Dasar Penyakit Tanaman
VIII. PENGENDALIAN OPT CARA FISIKA DAN BUDIDAYA
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Budidaya pada tanaman memerlukan pengetahuan tentang bagaimana cara pengendalian terhadap hama dan penyakit. Salah satu cara pengendalian pada hama penyakit tersebut adalah dengan pengendalian secara fisik dan mekanik. Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan mengubah lingkungan khusus untuk mematikan atau menghambat kehidupan hama, dan bukan merupakan bagian praktek budidaya yang umum.
Pengendalian fisik dan mekanik harus dilandasi oleh pengetahuan yang menyeluruh tentang ekologi serangan hama sehingga dapat diketahui kapan, dimana, dan bagaimana tindakan tersebut harus dilakukan agar diperoleh hasil seefektif dan seefisien mungkin. selain itu harus ada juga pengetahuan tentang kenyataan bahwa setiap jenis serangga memiliki batas toleransi terhadap faktor lingkungan fisik seperti suhu, kebasahan, bunyi, sinar, spektrum elektromagnetik dan lain-lain. Pengendalian fisik dan mekanik dalam PHT tidak mengakibatkan pengaruh negatif bagi lingkungan. Apabila dilakukan secara tepat pengendalian fisik dan mekanik mampu menurunkan populasi hama secara nyata dan dapat menyelamatkan pertanaman kita. Untuk memperoleh teknologi pengendalian yang efektif yang dapat menjadi masalah adalah cara pengorganisasian pengendalian. Hal ini disebabkan agar ada pengaruhnya terhadap penurunan populasi hama. Cara pengendalian ini memerlukan banyak tenaga dan harus dilakukan berulang kali.
Pengendalian fisik merupakan usaha kita menggunakan atau mengubah faktor lingkungan fisik sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan kematian pada hama dan mengurangi populasinya. Kematian hama disebabkan karena faktor fisik seperti suhu, kelembaban, suara yang dikenakan diluar batas toleransi serangga hama sasaran. Batas toleransi disini dapat berupa batas terendah dan tinggi. Beberapa perlakuan atau tindakan yang termasuk dalam pengendalian fisik antara lain adalah pemanasan, pembakaran, pemanasan dengan energi radio frekuensi, pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, radiasi sinar infra merah, gelombang suara, penghalang.
I.2 Tujuan
1. Merancang teknik pengendalian secara fisik dan budidaya sederhana dengan menggunakan bahan-bahan bekas.
2. Menentukan efektivitas pengendalian dengan memodifikasi teknik pengendalian fisik dan budidaya yang telah dirancang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami menghemat penggunaan insektisida 33-75%, meskipun pada musim hujan dengan kelimpahanhama wereng cukup tinggi. Dengan cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%. Ambang ekonomi bukanharga yang tetap, tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida.Bila harga gabah meningkat maka Ambang Ekonomi akan turun dan sebaliknya,tetapi bila harga insektisida naik maka ambang ekonomi akan naik dansebaliknya. Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alamidimaksudkan untukmemberikan peranan yang lebih besar kepada musuh alami,sebelum memakai insektisida (Effendi, 2009).
Pengendalian OPT bertujuan untuk mengurangi dan menurunkan intensitas serangan OPT ditanamanbudidaya. Beberapa teknik yang dapat digunakan yaitu secara fisik, mekanik, kulturteknik, kimiawi, hayati, penggunaan varietas tahan, bioteknologi, perundang-undangan, dan PHT (Pengelolaan Hama Terpadu). Semua metode pengendalian memiliki keunggulan dan kelemahan, sehingga diperlukan pemilihan teknik yang tepat dalam upaya pengendalian OPT di lapang. Teknik pengendalian yang optimum bertujuan agar hasil pengendalian yang dilakukan maksimum tanpa ada dampak ekologis yang negative dan residu pestisida yang berbahaya dalam jumlah minimum atau bahkan tidak ada. Perangkap warna dan Pit Fall termasuk kedalam komponen pengendalian fisik dan mekanik.Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan secara langsung dan tidak langsung, mematikan, mengganggu aktivitas dan merubah lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi tidak sesuai bagi kehidupan hama. Pengendalian dengan perangkap bubu aman akan kesehatan manusia dan lingkungan karena tanpa menggunakan bahan kimia yang berbahaya.
Pengendalian dengan perangkap terhadap hama adalah mengupayakan hama bisa masuk/ tertangkap dalam jebakan, sehingga tidak bisa keluar lagi. Macam perangkap bisa dengan zat-zat penarik dari tumbuhan / sintetik sepertieugenol yang dipasang pada aqua untuk menarikdan memangkap hama lalat buah, dengan lubang bubu untuk menangkap hama tikus.(Ahmad Sarbini, 2008).
III. METODE PENELITIAN
III.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Tanaman 2, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Pada tanggal 24 Nopember 2017 pukul 15.00-selesai.
III.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu cawan petri, LAF, oven, kompor, panci, botol, dan kertas saring.
Adapun bahan yang diperlukan yaitu beras rusak, tepung rusak, jagung rusak, dan air.
III.3 Prosedur Kerja
a. Penyimpanan pada botol
1. Menyiapkan dua botol kaca yang telah disterilkan.
2. Mengisi masing-masing botol dengan beras dan tepung yang telah rusak secukupnya.
3. Menumbuhkan dua Sitophillus zeamays pada masing-masing botol dan menutupnya.
4. Mengamati perkembangan Sitophillus zeamays setiap hari.
b. Penyimpanan pada cawan petri
· Perlakuan UV
1. Menyiapkan cawan petri yang sudah disterilkan terlebih dahulu.
2. Mengisi cawan petri dengan tiga sampel jagung, kemudian diberi sinar UV selama 10menit.
3. Menumbuhkan jagung pada cawan petri lain yang sudah diberi kertas saring dan ditetesi sedikit air agar lembab.
4. Melakukan pengamatan setiap hari.
· Perlakuan air panas
1. Menyiapkan cawan petri yang sudah disterilkan terlebih dahulu.
2. Merebus air hingga mendidih.
3. Merendam tiga sampel jagung pada air mendidih selama 10menit.
4. Menumbuhkan jagung pada cawan petri lain yang sudah diberi kertas saring dan ditetesi sedikit air agar lembab.
5. Melakukan pengamatan setiap hari.
· Perlakuan Oven
1. Menyiapkan cawan petri yang sudah disterilkan terlebih dahulu.
2. Mengisi cawan petri dengan tiga sampe jagung, kemudian memasukan ke dalam oven selama 10menit.
3. Menaruh sampel jagung ke cawan petri yang lain yang sudah diberi kertas saring dan ditetesi sedikit air.
4. Melakukan pengamatn setiap hari.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Hasil Pengamatan
No.
|
Perlakuan
|
Waktu
|
Hasil
|
Keterangan
|
1.
|
UV
|
10menit
|
Berjamur (++)
|
Berjamur pada hari ketiga
|
2.
|
Kontrol
|
10menit
|
Berjamur (+)
|
Berjamur pada hari ketiga
|
3.
|
Air Panas
|
10menit
|
Berjamur (+++)
|
Berjamur pada hari ketiga
|
No.
|
Pembanding
|
Keterangan
|
1.
|
Beras
|
Tidak tumbuh kutu
|
2.
|
Tepung
|
Tidak tumbuh kutu
|
Keterangan :
(+) : jamur yang tumbuh sedikit
(++) : jamur yang tumbuh agak banyak
(+++) : jamur yang tumbuh banyak
(++) : jamur yang tumbuh agak banyak
(+++) : jamur yang tumbuh banyak
4.2 Pembahasan
Pengendalian Fisik merupakan usaha dengan menggunakan atau mengubah faktor lingkungan fisik sedemikian rupa sehingga dapat mematikan atau menurunkan populasi hama yang ditujukan khusus untuk membunuh hama.
Beberapa perlakuan atau tindakan yang termasuk pengendalian fisik antara lain:
a. Perlakuan Panas
Perlakuan dengan panas yang paling berhasil apabila dilakukan pada ruang tertutup. Seperti di gudang penyimpanan untuk mematikan hama gudang.
b. Penggunaan Lampu Perangkap
Ditujukan sebagai alat memonitoring serangga juga dapat digunakan sebagai alat pengendali terutama untuk mengurangi populasi serangga hama.
c. Penghalang atau Barrier
Dimaksudkan untuk membatasi pergerakan serangga hama sehingga tidak menjadi masalah bagi petani. Berbagai bentuk penghalang misalnya berupa pemtang yang ditinggikan, adanya lubang atau selokan jebakan yang dibuat disekeliling pertanaman. buah yang di bungkus dimaksudkan untuk mencegah serangga meletakkan telur pada buah tersebut.
Contoh : Nangka yang dibungkus, untuk mencegah lalat buah meletakkan telur (Aprilianto, dkk. 2011)
Pengendalian fisik adalah perlakuan atau tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan serangan hama. Pengendalian secara fisik antara lain:
Pembakaran ; dilakukan sebagai upaya pembasmian hama atau patogen pada tanaman yang tidak mungkin lagi dapat diselamatkan. Pembakaran gulma juga sering dilakukan petani. Pembakaran sebagai upaya pengendalianhama, patogen, dan gulma harus dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa musuh alami hama dan mikroorganisme yang bermanfaat perlu untuk dilindungi.
Pemanasan ; dilakukan untuk pengendalian hama atau patogen yang menyerang hasil tanaman yang disimpan di gudang. Pemanasan tidak dapat dilakukan terhadap tanaman yang sedang aktif tumbuh, karena pemanasan dapat meyebabkan denaturasi enzim sehingga mengganngu metabolisme tanaman.
Penggunaan suara ; sebagai cara pengendalian hama lebih bersifat pengendalian sesaat, misalnya dilakukan untuk mengusir burung yang sedang atau hendak menyerang tanaman. Pengendalian dengan suara atau bunyi – bunyian ini harus dilakukan secara aktif oleh petani karena efektivitasnya yang bersifat sesaat tersebut.
Perangkap cahaya, beberapa serangga tertentu memiliki sifat tertarik pada cahaya terutama cahaya kuning. Sifat tersebut dapat kita manfaatkan untuk menarik perhatiannya dengan cara membuat perangkap yang berasal dari cahaya yang disekitarnya atau sekelilingnya menggunakan air, minyak tanah, oli dan lain sebagainya yang diharapkan mampu membunuh serangga tersebut. Adapun cahaya itu sendiri dapat bersumber dari lilin, lampu tempel/lentera atau minyak tanah, maupun lampu bohlam. Perangkap cahaya ini cocok untuk hama yang aktifpada malam hari seperti penggerek batang, ganjur, dan walang sangit.
Beberapa permasalahan penerapan sebagian teknik berikut akan dijelaskan secara singkat:
Ø Perlakuan panas dan kebasahan.
Pengendalian dengan perlakuan panas dan kebasahan paling berhasil bila diterapkan dalam ruang tertutup seperti gudang penyimpanan untuk pengendalian hama gudang. Pengendalian tersebut terlebih dahulu perlu dipelajari toleransi serangga hama sasaran terhadap faktor fisik yang digunakan.
Teknik pembakaran yang bertujuan untuk membunuh serangga hama yang masih ada pada tanaman di lapangan . sebelum dilakukan perlu diadakan pengkajian mendalam tentang perilaku dan ekologi hama serta dampak efek samping yang mmungkin timbul akibat pembakaran. Penentuan tentang kapan, dimana dan luas daerah pembakaran sangat penting dianalisis sebelum pembakaran.
Berdasarkan hasil pengamatan pada sampel yang ditumbuhkan di cawan petri, pada perlakuan dengan sinar UV menghasilkan jamur cukup banyak. Pada perlakuan control sedit ditumbuhi jamur. Dan pada perlakuan dengan air panas disini merupakan perlakuan yang menhasilkan banyak jamur. Jamur pada masing-masing perlakuan muncul di hari yang sama yaitu pada hari ketiga setelah perlakuan sampel dilakukan.
Berdasarkan hasil tersebut pada perlakuan control adalah cara paling efektif dari semua perlakuan, karena tidak dilakuakan perlakuan pun OPT tidak terbentuk sebanyak perlakuan dengan disinari UV maupun direndam dengan air panas.
Berdasarkan hasil pengamatan pada sampel beras dan tepung yang ditumbuhkan sitophiluus zeamays, pada kedua sampe tidak ditemukan adanya pertumbuhan sitophillus zeamays. Karena adanya factor eksternal yaitu beras dan tepung masih dalam keadaan baik atau tidak rusak. Penumbuhan sampel masih berada pada waktu yang cukup singkat.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan pada perlakuan control adalah cara paling efektif dari semua perlakuan, karena tidak dilakuakan perlakuan pun OPT tidak terbentuk sebanyak perlakuan dengan disinari UV maupun direndam dengan air panas.
Berdasarkan hasil pengamatan pada sampel beras dan tepung yang ditumbuhkan sitophiluus zeamays, pada kedua sampe tidak ditemukan adanya pertumbuhan sitophillus zeamays. Karena adanya factor eksternal yaitu beras dan tepung masih dalam keadaan baik atau tidak rusak. Penumbuhan sampel masih berada pada waktu yang cukup singkat.
DAFTAR PUSTAKA
Apriliyanto SP, dkk. 2011. Modul Praktikum PHTP. Politeknik Banjarnegara. Banjarnegara
Effendi. 2011. Strategi Pengendalian Hama Trepadu Tanaman Padi dalam Perspektif Praktek Pertanian Yang Baik. Vol 2.No 1 Hal 66-78.
Sarbini, Ahmad. 2008. Pengendalian Hama Terpadu.Posted in pertanian on February 2, 2008.
LAMPIRAN
Sampel tepung yang ditumbuhkan Sitophillus zeamays
|
Sampel beras yang ditumbuhkan Sitophillus zeamays
|
Sampel jagung yang diperlakukan dengan sinar UV, direndam air panas, dan kontrol
|



Komentar
Posting Komentar