Dasar Pemuliaan Tanaman

LAPORAN RESMI
DASAR PEMULIAAN TANAMAN

 

Oleh :
Golongan Praktikum AD3


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT dengan terselesaikannya buku Laporan Resmi Dasar Pemuliaan Tanaman. Laporan Resmi Praktikum Dasar Pemuliaan Tanaman ini dibuat sebagai media referensi mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur dalam pembelajaran.
Laporan Resmi ini bertujuan sebagai media tambahan pembelajaran untuk memperkuat perkuliahan, sehingga materi dapat berjalan dengan lancar. Terdapat kurang lebih lima materi referensi pembelajaran meliputi Sistem Perkembangbiakan Tanaman, Kastrasi dan Hibridisasi, Koleksi dan Diskripsi, Heritabilitas, dan Seleksi.
Kritik dan saran sangat diharapkan sebagai bentuk perbaikan referensi pembelajaran ke depan. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berperan dalam kegiatan ini.
Semoga buku referensi pembelajaran ini dapat membantu dan bermanfaat bagi mahasiswa yang membutuhkan.


Surabaya,   Desember 2017
Tim Penyusun

Golongan Praktikum AD3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………..
Daftar Isi…………………………………………………………………….
Daftar Tabel…………………………………………………………………
Daftar Gambar………………………………………………………………
MATERI I. SISTEM PERKEMBANGBIAKAN TANAMAN………..
MATERI II. KASTRASI DAN HIBRIDISASI…………………………
MATERI III. KOLEKSI DAN DESKRIPSI…………………………….
MATERI IV. HERITABILITAS…………………………………………
MATERI V. SELEKSI…………………………………………………..

DAFTAR TABEL
Table 2.3.1 Hasil pengamatan…………………………
Table 5.3.1 Generasi 1…………………………………
Table 5.3.2 Generasi 2…………………………………
Table 5.3.3 Generasi 3…………………………………
Table 5.3.4 Generasi 4…………………………………
Table 5.3.5 Generasi 5…………………………………

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.3.1 Bunga Jantan…………………………………………………….
Gambar 2.3.2 Bunga Betina…………………………………………………….
Gambar 2.3.3 Bunga Jantan……………………………………………………
Gambar 2.3.4 Bunga Betina…………………………………………………….
Gambar 3.3.1 Daun…………………………………………………………….
Gambar 3.3.2 Batang…………………………………………………………...
Gambar 3.3.3 Bunga…………………………………………………………….
Gambar 3.3.4 Buah………………………………………………………………
Gambar 3.3.5 Biji…………………………………………………………………
MATERI I. SISTEM PERKEMBANGBIAKAN TANAMAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tumbuhan juga melakukan reproduksi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya atau spesiesnya. Pada tumbuhan berbunga, bunga merupakan alat reproduksi seksual. Bunga dikatakan lengkap apabila mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik dan daun buah. Bunga terdiri dari bagian fertil, yaitu bnang sari dan daun buah, serta bagian steril yaitu daun kelopak dan daun buah. Benang sari merupakan alat kelamin jantan pada bunga. Benang sari (stamen) terdiri dari tangkai sari dan kepala sari (antera). Benang sari pada umumnya terdiri dari empat ruang yang berisi pollen yang disebut dengan mikrosporangium (lokulus) dan suatu tangkai yang mendukung antera disebut filamen atau tangkai sari (Nugroho 2006: 121)
Cara reproduksi tanaman (perkembangbiakan tanaman) menentukan prosedur pemuliaan tanaman. Pengetahuan cara reproduksi tanaman akan memperjelas keterkaitannya dengan metode pemuliaan tanaman yang digunakan (Oemar dkk, 2015).
Proses reproduksi seksual sangat penting bagi seorang pemulia tanaman dan untuk memahami perlu ditinjau pengatahuan tentang bunga, penyerbukan dan pembuahan. Kebanyakan tanaman mempunyai bunga perfect. Bunga merupakan alat bantu dalam perkembang biakan secara seksual dan merupakan  bagian dari tanaman. Bunga menjadikan tanaman tetap berkembang biak menjadi berbagai macam bentuk dengan jenis atau spesies yang berbeda-beda. Bunga merupakan organ atau  bagian terpenting dari tumbuhan agar selalu dapat berkembang biak. Bunga merupakan salah satu alat perkembangbiakan generatif tanaman yang melibatkan organ tanaman sebagai alat penyerbukan (Sunarto,1997).
1.2 Rumusan masalah
Bagaimana sistem perkembangbiakan tanaman?
1.3 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari dan mengenali sistem perkembangbiakan pada tumbuhan.
1.4 Manfaat
Mengetahui tentang sistem perkembangbiakan tanaman.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bunga merupakan alat bantu dalam perkembang biakan secara seksual dan merupakan bagian dari tanaman. Bunga menjadikan tanaman tetap berkembang biak menjadi berbagai macam bentuk dengan jenis atau spesies yang  berbeda-beda. Bunga merupakan organ atau bagian terpenting dari tumbuhan agar  selalu dapat berkembang biak.  Bunga merupakan salah satu alat perkembangbiakan generatif tanaman yang melibatkan organ tanaman sebagai alat penyerbukan (Sunarto,1997).
Reproduksi pada tumbuhan dapat berlangsung secara vegetatif (aseksual atau tidak kawin), generatif (seksual atau kawin), dan metagenesis (vegetatif dan generatif secara bergantian). Reproduksi vegetatif sangat menolong tumbuhan dari kepunahan sebab tidak bergantung pada individu lain untuk reproduksinya. Reproduksi seksual pada tumbuhan terjadi pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka, misalnya pinus, cemara, melinjo, damar, dan pakis haji), dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup yaitu monokotil dan dikotil) (Srikini 2008: 6).
Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari di kepala putik untuk tumbuhan Angiospermae sedang untuk Gymnospermae langsung pada bakal biji. Generatif adalah bahwa tanaman tersebut berkembang biak secar kawin dan melalui peleburan antar kelamin jantan dan kelamin betina atau dengan fertilisasi, yaitu bertemunya sel jantan yang terdapat pada benang sari dan sel betina yang terdapat pada putik. Bertemunya 2 sel ini nantinya akan menghasilkan buah yang berbiji dua (Pratiwi 2007: 199)
Keuntungan reproduksi secara buatan ini adalah keturunan yang dihasilkan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya dan cenderung lebih cepat menghasilkan buah. Kekurangannya antara lain sistem perakaran kurang kuat dan jika ranting dipotong menyebabkan menurunnya pertumbuhan. Reproduksi vegetatif merupakan suatu perluasan dari kapasitas tumbuhan untuk  melakukan pertumbuhan tak terbatas. Individu baru (keturunannya) yang terbentuk mempunyai ciri dan sifat yang sama dengan induknya. Individu-individu sejenis yang terbentuk secara reproduksi aseksual dikatakan termasuk dalam satu klon, sehingga anggota dari satu klon mempunyai susunan genetik yang sama (Pratiwi 2007: 356).
Alat perkembangbiakan generatif itu bentuk dan susunannya berbeda-beda menurut jenis tumbuhan, tetapi bagi tunbuhan yang berbiji itu lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai bunga (Tjitrosoepomo,1985).
Bunga mempunyai empat jenis bunga yaitu bunga sempurna, bunga tidak sempurna, bunga lengkap, dan bunga tidak lengakap.
1. Bunga sempurna (perfect) yaitu bu8nga biseksual, stamen dan pistil terletak pada bunga yang sama.
2. Bunga tak sempurna (imperfect) yaitu bunga uniseksual, stamen dan pistil terdapat pada bunga yang berbeda taua terpisah.
3. Bunga lengkap (complete), yang mempunyai keempat organ bunga yaitu sepal, petal, stamen dan pistil. Contohnya bunga kapas, kedelai, tembakau, anggur.
4. Bunga tak lengkap (incomplete), yang tidak mempunyai satu atau dua organ bunga. Contoh pada bunga jagung, padi, sorgum, famili rumput-rumputan (Poespodarsono, S. 1988).
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

1. Nama tanaman : Mawar
a. tipe perkembangbiakan : seksual
b. tipe penyerbukan : penyerbukan sendiri
 

 




 
2. Nama tanaman : Anggrek
a. tipe perkembangbiakan : seksual
b. tipe penyerbukan : penyerbukan sendiri

 


3.2 Pembahasan
Bunga mawar dikatakan bunga majemuk, dimana bunga-bunganya terkumpul dalam satu ruang, tepatnya berada diatas benangsari dan putik. Penyerbukan bunga mawar terjadi di bunga itu sendiri, dimana setelah terjadi pembuahan, maka bunga tersebut akan berubah menjadi buah yang merupakan struktur untuk membawa biji bunga. Klasifikasi bunga mawr sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Kelas : Dicotyledonae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Rosaceae
Ordo : Rosanales
Genus : Rosa
Spesies : Rosa Hiproida atau Rosa sp.
Anggrek adalah jenis tanaman yang tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri dan memerlukan bantuan manusia maupun serangga. Akan tetapi ada juga jenis anggrek yang bisa melakukan penyerbukan sendiri karena dalam 1 bunga sudah terdapat benangsari dan putiknya. Proses perkembangbiakan tanaman anggrek dilakukan dengan cara vegetative dan generative. Perkembangbiakan secara generative adalah perkembangbiakan pada tumbuhan yang terjadi dengan proses penyerbukan. Sedangkan proses penyerbukan itu sendiri bisa dipahami sebagai satu peristiwa dimana serbuk sari jatuh ke kepala putik. Adapun klasifikasi bunga anggrek sebagai berikut :
Kingdom : plantae
Divisi : spermatophyta
Subdivisi : angiospermae
Kelas : monocotyledonae
Ordo : orchidales
Family : orchidaceae
Genus : dendrobium
Spesies : dendrobium macrophylumm


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kedua bunga tersebut memiliki tipe perkembangbiakan secara aseksual dan tipe penyerbukan sendiri, dikarenakan dalam satu bunga memiliki putik dan benangsari sekaligus.
Mawar adalah salah satu jenis tanaman yang dapat melakukan penyerbukan sendiri, karena dalam 1 bunga terdapat 2 alat kelamin sealigus yaitu benangsari dan putik. Anggrek adalah jenis tanaman yang bisa melakukan penyerbukan secara silang ataupun sendiri karena tidak semua jenis anggrek memiliki 2 alat kelamin dalam 1 bunga sekaligus.
4.2 Saran
Pada praktikum ini sebaiknya membawa bunga yang telah memasuki fase generative secara sempurna yang telah terlihat putik maupun benangsarinya agar lebih memudahkan dalam kegiatan pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho,L. Hartanto. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Jakarta. Penebar
Swadaya. IV + 180 hlm.
Oemar Oesin. dkk, 2014. Penuntun Praktikum Pemuliaan Tanaman. Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya
Poespodarsono, S. 1988. Dasar–Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Bandung: ITB.
Pratiwi. 2007. Reproduksi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.
Srikini. 2008. Sains Biologi. Jakarta : Erlangga
Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. Semarang: IKIP Semarang Press
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

MATERI II. KASTRASI DAN HIBRIDISASI 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penyerbukan silang dialam terjadi secara spontan. Penyerbukan tersebut terjadi dengan bantuan angin, serangga pollination dan binatang lainnya. Pada penyerbukan alami tidak diketahui sifat-sifat dari pohon induk apakah sifat dari pohon induk baik atau buruk sehingga tidak dapat dilakukan pengontrolan akibatnya hasilnya seringkali mengecewakan. Oleh karena itu agar persilangan dapat dikontrol dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka manusia melakukan penyerbukan silang buatan. Untuk mendapatkan varietas unggul dapat ditempuh melalui beberapa metode. Metode pemulian tanaman ini sangat ditentukan oleh sistem penyerbukan ataupun cara perkembangbiakan tanaman. Metode untuk tanaman menyerbuk sendiri berbeda dengan untuk tanaman yang menyerbuk silang. Metode untuk tanaman yang dikembangbiakan sacara seksual berbeda dengan yang dikembangbiakan secara aseksual. Tanaman menyerbuk sendiri dapat dimuliakan antara lain melalui hibridisasi. Hibridisasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki keturunannya. Sebagai hasil dari hibridisasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya. Dari keragaman yang tinggi inilah pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan.

Kastrasi adalah kegiatan pembuangan bunga dan buah pasir untuk merangsang pertumbuhan vegetatif serta untuk mencegah infeksi hama dan penyakit. Kastrasi dilakukan ketika tanaman mulai berbunga untuk pertama kalinya sampai tanaman berumur 33 bulan (6 bulan sebelum panen). Kastrasi dilakukan dengan interval satu bulan sekali. Proses penyerbukan merupakan resultan dari serangkaian interaksi yang telah terbentuk antara tanaman berbunga dan pollinatornya, yang dikondisikan oleh lingkungan menjelang dan selama anthesis. Dengan demikian, keberhasilan penyerbukan mensyaratkan adanya kemampuan dari pollinator untuk membangun sejumlah interaksi dengan tanaman berbunga yang dapat mengakibatkan terjadinya transfer tepung sari. Kastarasi juga cara mengebiri bunga atas emaskulasi yaitu membuang benangsari yang masih muda atau belum masak dari sebuah bunga atau kuncup bunga dari induk betina. Pada umumnya kastrasi dilakukan satu atau dua hari sesaat bunga itu mekar. Sehubungan dengan itu maka pertumbuhan kuncup bunga perlu dipelajari atau diamati secara seksama. Pada peristiwa hibridisasi akan memperoleh kombinasi genetik yang diperoleh melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya. Emaskulasi atau sering disebut kastrasi merupakan pengambilan tepung sari pada kelamin jantan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Dalam laporan praktikum kali ini akan dibahas mengenai kastrasi dan hibridisasi.

Hibridisasi merupakan perkawinan antara berbagai varietas atau spesies. Tujuan hibridisasi adalah untuk memperoleh genotipe baru yang diinginkan. Hasil dari hibridisasi akan terjadi segregasi pada keturunan pertama (F1) apabila keturunannya bergenotipe heterozigot dan pada keturunan kedua (F2) apabila tetuanya bergenotipe homozigot.

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam hibridisasi adalah pemilihan tetua yang didasarkan pada tujuan dan program pemuliaan tanaman, misalnya peningkatan produksi (sifat kuantitatif) atau peningkatan kandungan protein, lemak dan sebagainya (sifat kualitatif). Hasil hibridisasi dapat menciptakan populasi keturunan yang bersegregasi, berarti ada perbedaan genetika antara individu pada populasi sehingga sangat bermanfaat untuk program seleksi dan perbaikan sifat. Hasil hibridisasi juga dapat menghasilkan keturunan pertama (F1) yang mempunyai sifat unggul atau yang sering disebut varietas hibrida. Keunggulannya disebabkan adanya efek heterosis, namun hal ini ada beberapa persyaratan dalam pelaksanaan antara lain: kedua tetuanya harus bergenotipe homozigot, terjadi akumulasi gen dominan pada keturunannya.
1.2 Rumusan masalah
Bagaimana cara melakukan kastrasi dan hibridisasi
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik penyerbukan buatan (hibridisasi).
1.4 Manfaat
Manfaat kastrasi dan hibridisasi adalah untuk menghasilkan varietas baru yang unggul.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perkawinan antar spesies merupakan salah satu cara yang digunakan dalam meningkatkan keragaman genetik bahan pemuliaan. Keragaman tersebut nantinya akan diseleksi untuk mendapatkan varietas yang memiliki sifat unggul. Varietas bersifat unggul tersebut yang nantinya dapat dilepas sebagai varietas unggul. Perkawinan silang antar spesies dan dalam spesies memiliki beberapa perbedaan dalam tingkat keragaman genetik nantinya. Jenis perkawinan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sehingga dalam proses perkawinan dalam tanaman atau sering disebut dengan penyerbukan diperlukan pengetahuan khusus mengenai meorfologi dan sifat-sifat pada bunga. Keragaman populasi yang tinggi dengan sasaran yang spesifik dapat juga digunakan sebagai sumber induk untuk program-program persilangan yang akan datang. Pada kenyataannya, semua sistem pembastaran (hibridisasi) merupakan sumber karakter tanaman-tanaman induk masa datang (Welsh, 1991).
Kastrasi atau emaskulasi adalah membuang bagian tanaman yang tidak diperlukan. Kegiatan ini biasa disebut dengan pengebirian. Kastrasi dilakukan sehari sebelum penyerbukan agar putik menjadi masak sempurna saat penyerbukan sehingga keberhasilan penyilangan lebih tinggi. Setiap bunga (spikelet) terdapat enam benang sari. Dua kepala putik yang menyerupai rambut tidak boleh rusak. Oleh karena itu perlu hati-hati dalam melakukan kastrasi. Bunga pada malai yang akan dikastrasi dijarangkan hingga tinggal 15-50 bunga. Sepertiga bagian bunga dipotong miring menggunakan gunting kemudian benang sari diambil dengan alat penyedot vacuum pump. Bunga yang telah bersih dari benang sari ditutup dengan glacine bag agar tidak terserbuki oleh tepung sari yang tidak dikehendaki (Wawan, 2002).
Hibridisasi merupakan suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies pada setiap tanaman. Yang mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan dan dapat berfariasi jenisnya. Pada peristiwa hibridisasi akan memperoleh kombinasi genetik yang diperoleh melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya. Emaskulasi atau sering disebut kastrasi merupakan pengambilan tepung sari pada kelamin jantan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Dalam proses pengambilan tepung sari tersebut dilakukan pada saat sebelum kepala putik masak agar lebih menjaga dan memperkecil kemungkinan terjadinya penyerbukan (Allard, 1995).
Tanaman menyerbuk sendiri dapat dimuliakan antara lain melalui hibridisasi. Hibridisasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki keturunannya. Sebagai hasil dari hibridisasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya. Dari keragaman yang tinggi inilah pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan (Syukur, 2009).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan tenpat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 31 September 2017 di laboratorium Bioteknologi UPN Veteran Jawa Timur
3.2  Alat dan bahan
Benih timun
Benih melon
Polybag
Pupuk NPK
Gandasil B
3.3 Cara kerja
Masukkan tanah kedalam polybag sebagai media tanam
Masukkan 3 buah benih disetiap polybag lalu timbun dengan tanah
Kemudian sirami dengan air secukupnya
Lakukan pemeliharaan dengan menyiram dan membuang gulma yang tumbuh disekitar tanaman.
Pemupukan N dilakukan dua kali yaitu pada umur 15 hari setelah tanam dan 35 hari setelah tanam masing-masing 4 gram dan 6 gram urea per tanaman.
Beri pupuk gandasil B sebagai perangsang pertumbuhan bunga
Silangkan bunga dengan cara mengambil bunga jantan kemudian serbuk sari dijatuhkan keatas kepala putik bunga betina.
Kemudian tutup dengan menggunakan plastik agar bunga tidak diserbuki oleh bunga yang lain.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1 Hasil Pengamatan
Table 4.1 Hasil Pengamatan
NO
GAMBAR
KETERANGAN
1.
 
Bunga jantan yang muncul dan akan digunakan sebagai tetua jantan dalam proses kastrasi
2.
 
Bunga betina yang muncul dan akan digunakan sebagai tetua betina dalam proses kastrasi
3.
 
Proses kastrasi yang dilakukan dari tetua bunga jantan dan betina dari tanaman melon dan timun
4.
 
Tanaman melon dan timun yang akan digunakan dalam proses kastrasi dan hibridisasi

4. 2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap bunga melon yang telah disilangkan, diketahui bahwa terjadi kegagalan dalam proses hibridisasi yang telah dilakukan. Bunga melon yang diamati selama dua minggu mengering dan tidak menunjukkan adanya pembuahan pada bunga tersebut. Kegagalan dalam kegiatan persilangan bunga melon tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor yang terbagi menjadi faktor luar, faktor dalam dan faktor pelaksanaan. Faktor luar  berasal dari lingkungan di sekitar tempat pengamatan yang tidak optimal untuk mendukung terjadinya pembuahan. Hujan dan angin merupakan salah satu faktor yang paling menghambat masuknya serbuk sari ke dalam putik. Selain itu, hujan dan angin yang kencang juga menyebabkan tangkai bunga menjadi patah sehingga  bunga mengering dan mati. Sedangkan faktor dalam yang juga banyak  berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan kastrasi dan hibridisasi ini adalah umur bunga yang masih belum siap. Tingkat kematangan alat kelamin jantan dan  betina yang digunakan dalam kegiatan hibridisasi ini belum optimal. Alat kelamin jantan yang masih terlalu muda masih belum dapat menyerbuki bunga betina. Sedangkan bunga betina yang belum matang sempurna juga masih belum siap untuk digunakan dalam kegiatan ini. Kegagalan kastrasi dan hibridisasi juga dapat berasal dari faktor pelaksanaan yang kurang tepat. Teknik kastrasi yang dilakukan secara kurang cermat dapat merusak putik sehingga putik tersebut tidak dapat digunakan dalam kegiatan hibridisasi. Perawatan tanaman serta penempatan tanaman yang kurang baik juga dapat menyebabkan kematian pada bunga.
Bunga merupakan organ perkembangbiakan generatif yang umum dijumpai pada tanaman. Masing-masing tanaman memiliki karakteristik bungayang berbeda. Beberapa bunga juga diketahui memiliki oragan atau bagian bungatertentu saja. Bunga unisexual merupakan salah satu kelompok bunga yangdibedakan berdasarkan kelengkapan alat kelaminnya. Bunga unisexual merupakan bunga yang hanya memiliki salah satu dari kedua macam alat kelamin yang biasaterdapat pada bunga, baik berupa kelamin jantan saja (flos maskulus) atau kelamin betina saja (flos femineus). Pada tanaman unisexual, penyerbukan sendirisulitdilakukan karena letak bunga jantan dan betina yang berjauhan. Penyerbukansendiri pada bunga jenis ini belum memberi jaminan akan terjadinya pembuahankarena serbuk sari belum tentu dapat mencapai sel telur yang terdapat pada putik.Biasanya penyerbukan pada bunga unisexual dapat terjadi akibat adanya faktor luar yang dapat membantu sampainya serbuk sari pada putik. Penyerbukantersebut antara lain dapat dibantu oleh angin (anemogami), hewan (zoidogami),air (hidrogami), dan karena adanya bantuan dari manusia (antropogami).Masuknya serbuk sari ke kepala putik akibat bantuan dari beberapa polinatortersebut kemudian menyebabkan terjadinya proses pembuahan pada bungaunisexual.
Saat yang paling baik untuk melakukan kastrasi dan hibridisasi adalah saat bunga telah setengah mekar sampai tiga perempat bagian bunganya (bunga yangmasih kuncup) dan kepala putiknya berwarna putih. Pada saat itu, bunga jantan(benang sari) pada kotak sari tersebut belum masak atau pecah. Hal ini jugadipengarui oleh morfologi dari masing-masing bunga yang akan disilangkan.Kematangan putik dan benang sari merupakan hal yang sangat penting bagikeberhasilan suatu proses penyerbukan. Menurut Deswiniyanti dkk. (2011),menyatakan bahwa informasi mengenai kematangan polen (serbuk sari) danreseptif (putik) stigma pada suatu bunga menjadi penting karena untukmerangsang proses pembungaan. Selain itu informasi mengenai anthesis jugasangat penting, yaitu informasi mengenai waktu atau lamanya mulainya bungamekar sampai mekar sempurna. Pada masa anthesis ini terjadi proses penyerbukanantara organ reproduksi jantan dan organ betina.
Hibridisasi untuk mendapatkan varietas unggul dapat dilakukan denganmetode konvensional yaitu persilangan pada umumnya, dan metode non-konvensional atau modern dengan rekayasa genetika. Untuk metode konvensionaldalam perakitan varietas unggul sangat tergantung oleh tipe tanaman yang akandisilangkan tanaman menyerbuk sendiri atau tanaman menyerbuk silang, berkaitan erat dengan morfologi dan biologi bunga. Dalam upayanya yaitukastrasi dan hibridisasi dalam perakitan varietas unggul dilakukan persilangandengan mentaati persyaratan tersebut dan dapat dilakukan dengan cara seleksi populasi, penggabungan karakter yang diinginkan melalui persilangan secara nonkonvensional atau modern dapat dilakukan dengan transgenik yaitu dengan cara perluasan variasi genetik melalui mutasi bila karakter yang diinginkan tidak ada dialam, atau penyisipan gen untuk memproduksi tanaman transgenik.
BAB V
PENUTUP
5. 1 Kesimpulan
Penyerbukan pada bunga unisexual dapat terjadi karena adanya banuan dari angin (anemogami), hewan (zoidogami), air (hidrogami), dan karena adanya bantuan dari manusia (antropogami). Kastrasi dan hibridisasi dilakukan pada saat bunga mekar ½ hingga ¾ untuk memastikan bahwa tidak terjadi penyerbkan sendiri pada bunga tersebut. Hibridisasi dalam skala luas dapat dilakukan dengan metode konvensional (persilangan) dan non – konvensional (rekayasa genetika). Kegagalan kegiatan persilangan yang dilakukan pada bunga melon dan timun dapat disebabkan oleh kurang matangnya alat kelamin jantan dan betina.
5. 2 Saran
Sebaiknya kegiatan kastrasi dan hibridisasi dilakukan saat musim yang tepat untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman melon dan timun karena hal tersebut dapat menunjang keberhasilan persilangan yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Allard, R. W. 1995. Pemuliaan Tanaman Jilid 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Syukur, M. dkk. 2009. Teknik Pemuliaan Tanaman. Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB, Bogor.
Wawan, L. 2002. Teknik Kastrasi Pada Persilangan Buatan Tanaman Lada Secara Konvensional. Buletin Teknik Pertanian Vol.7. No.2.
Welsh, J.R. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga.


MATERI III. KOLEKSI DAN HIBRIDISASI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Salah satu ciri organisme hidup seperti tumbuhan adalah berkembang biak. Ada dua cara tumbuhan dalam berkembang biak, yaitu dengan cara aseksual dan seksual. Cara perkembangbiakan secara aseksual adalah suatu perkembangbiakan dengan cara menggunakan organ vegetatif. Cara ini banyak dilakukan oleh tanaman yang tidak mempunyai bunga atau tidak mampu melakukan penyerbukan karena bunga tidak lengkap atau karena faktor lain yang menghalangi terjadinya penyerbukan.  Bagian tanaman yang dipakai untuk berkembang biak adalah batang, umbi, atau mata tunas. Sedangkan cara perkembangbiakan secara seksual adalah perkembangbiakan dengan menggunakan biji. Biji berasal dari bakal biji, yang dapat disamakan dengan makrosporangium dan terdapat di dalam bunga.
Alat perkembangbiakan generatif itu bentuk dan susunannya berbeda-beda menurut jenisnya tumbuhan, tetapi bagi tumbuhan yang berbiji, alat tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai bunga. Oleh sebab itu suatu tumbuhan berbiji, jika sudah tiba waktu baginya akan mengeluarkan bunga. Bunga sebagai suatu bagian tumbuhan merupakan suatu penjelmaan dari bagian pokok tubuh tumbuhan yaitu akar, batang dan daun. Jika kita memperhatikan susunan suatu bunga, mudahlah diketahui bahwa bunga adalah penjelmaan suatu tunas (batang dan daun-daun) yang bentuk, warna dan susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan, sehingga pada bunga ini dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan akhirnya dapat dihasilkan alat-alat perkembangbiakan. Bunga disebut organ pembiakan seksual karena bunga merupakan tempat melekatnya alat kelamin tumbuhan yakni benang sari dan putik. Menurut kelengkapan bagian yang terdapat pada suatu bunga, ada dua macam bunga yakni bunga lengkap dan bunga tak lengkap. Sementara menurut ada tidaknya alat kelamin bunga dibedakan atas bunga sempurna dan bunga tak sempurna.

Rumusan Masalah
Bagaimana koleksi biji dilakukan?
Mengapa perlu dilakukan koleksi biji?

Tujuan
Mengetahui cara koleksi biji dilakukan
Mengetahui morfologi tanaman.

Manfaat
Manfaat dari pengoleksian biji adalah untuk mengetahui plasma nutfah yang ada di sekitar kita dan mampu mendeskripsikan morfologi dari tanaman tersebut.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Solanales , Famili Solanaceae, dan Genus Capsicum (Tabin, 2010). Ditinjau dari hubungan kekerabatannnya, cabai merah termasuk keluarga terung-terungan (Solanaceae).
Tanaman cabai merah termasuk tanaman berbentuk perdu, berdiri tegak dan bertajuk lebar. Tanaman ini juga mempunyai banyak cabang dan setiap cabang akan muncul bunga yang pada akhirnya berkembang menjadi buah. Disebut cabai merah karena buahnya besar berwarna merah. (Hadiyanto, 2005)
Batang cabai tumbuh tegak berwarna hijau tua dan berkayu. Pada ketinggian batang tertentu akan membentuk percabangan seperti huruf “Y”. Batangnya berbentuk silindris, berukuran diameter kecil dengan tajuk daun lebar dan buah cabai yang lebat (Samadi, 1997).
Daun cabai berbentuk lonjong yang berukuran panjang 8-12 cm, lebar 3-5 cm dan di bagian pangkal dan ujung daun meruncing. Pada permukaan daun bagian atas berwarna hijaun tua, sedang dibagian bawah berwarna hijau muda.  Panjang tangkai daunnnya berkisar 2-4 cm yang melekat pada percabangan, sedangkan tulang daunnnya berbentuk menyirip (Samadi, 1997).
Akar tanaman cabai tumbuh menyebar dalam tanah terutama akar cabang dan akar rambut. Bagian ujung akarnya hanya mampu menembus tanah sampai kedalaman 25-30 cm. Oleh karena itu penggemburan tanah harus dilakukan sampai kedalaman tersebut agar perkembangan akar lebih sempurna (Samadi, 1997).
Bunga cabai termasuk berkelamin dua, karena pada satu bunga terdapat kepala sari dan kepala putik. Bunga cabai tersusun dari tangkai bunga yang berukuran panjang berkisar 1-2 cm, kelopak bunga, mahkota bunga dan alat kelamin yang meliputi kepala sari dan kepala putik. Mahkota bunganya berwarna putih dan akan mengalami rontok bila buah mulai terbentuk. Jumlah mahkota bunga bervariasi antara 5-6 kelopak bunga. Kepala putik berwarna kuning kehijauan dan tangkai kepala putiknya berwarna putih, panjangnya berkisar 0,5 cm. Sedangkan kepala sari yang telah masak berwarna biru sampai ungu. Tangkai sarinya berwarna putih, panjangnya 0,5 cm. Letak bunganya berada pada posisi menggantung, berukuran panjang antara 1-1,5 cm, lebarnya berkisar 0,5 cm dan warna bunga tampak menarik (Samadi, 1997).
Buah cabai merah biasanya muncul dari percabangan atau ketiak daun dengan posisi buah menggantug. Berat cabai merah sangat bervariasi, yakni berkisar 5-25 gram. Buah cabai yang masih muda berwarna hijau, berangsur-angsur berubah menjadi merah menyala setelah buahnya tua (Samadi, 1997).










BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
a. Daun
 Gambar 3.1 Daun
Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang Ian- set. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3 — 11 cm, dengan lebar antara 1 — 5 cm.
b. Batang
 Gambar 3.2 Batang
Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Biasanya, batang akan tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak percabangan. Untuk jenis-jenis cabai rawit, panjang batang biasanya tidak melebihi 100 cm. Namun untuk jenis cabai besar, panjang batang (ketinggian) dapat mencapai 2meter bahkan lebih.
Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua, atau hijau muda. Pada batang-batang yang telah tua (biasanya batang paling bawah), akan muncul wama coklat seperti kayu. Ini merupakan kayu semu, yang diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim.
c. Bunga
Gambar 3.3 Bunga
Bunga tanaman cabai juga bervariasi, namun memiliki bentuk yang sama, yaitu berbentuk bintang. Ini menunjukkan tanaman cabai termasuk dalam sub kelas Ateridae (berbunga bintang). Bunga biasanya tumbuh pada ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam tandan. Dalam satu tandan biasanya terdapat 2-3 bunga saja. Mahkota bunga tanaman cabai warnanya bermacam-macam, ada yang putih, putih kehijauan, dan ungu. Diameter bunga antara 5-20mm. Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian. Pernyerbukan tanaman cabai biasanya dibantu angin atau lebah. Kecepatan angin yang dibutuhkan untuk penyerbukan antara 10-20 km/jam (angin sepoi-sepoi). Angin yang ter lalu kencang justru akan merusak tanaman. Sedangkan penyerbukan yang dibantu oleh lebah dilakukan saat lebah tertarik mendekati bunga tanaman cabai yang menarik penampilannya dan terdapat madu di dalamnya.
d. Buah
Gambar 3.4 Buah
Buah cabai rawit akan terbentuk stelah terjadi penyerbukan. Buah memiliki keanekaragaman dalam hal ukuran, bentuk, warna dan rasa buah. Buah cabai rawit dapat berbentuk bulat pendek dengan ujung runcing/berbentuk kerucut. Ukuran buah bervariasi, menurut jenisnya cabai rawit yang kecil-kecil memiliki ukuran panjang antara 2-2,5 cm dan lebar 5 mm. sedangkan cabai rawit yang agak besar memiliki ukuran yang mencapai 3,5 cm dan lebar mencapai 12 mm.
Warna buah cabai rawit bervariasi buah muda berwarna hijau/putih sedangkan buah yang telah masak berwarna merah menyala/merah jingga (merah agak kuning) pada waktu masih muda, rasa buah cabai rawit kurang pedas, tetapi setelah masak menjadi pedas.
e. Biji
Gambar 3.5 Biji
Biji cabai rawit berwarna putih kekuningan-kuningan, berbentuk bulat pipih, tersusun berkelompok (bergerombol) dan saling melekat pada empulur. Ukuran biji cabai rawit lebih kecil dibandingkan dengan biji cabai besar. Biji-biji ini dapat digunakan dalam perbanyakan tanaman (perkembangbiakan).

3.2 Pembahasan
Tanaman Cabe Merah (Capsicum annuum L.) adalah tanaman perdu dengan rasa buah pedas yang disebabkan oleh kandungan capsaicin. Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin, diantaranya kalori, protein, lemak, kabohidarat, kalsium, vitamin A, B1, dan vitamin C.
Cabe (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan yang salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker. Budidaya tanaman cabe diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit . Cabe atau lombok merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi.
Daerah sentral produksi utama cabe merah antara lain Jawa Barat (Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung); Jawa Tengah (Brebes, Magelang, dan Temanggung); Jawa Timur (Malang, Banyuwangi). Sentra utama cabe keriting adalah Bandung, Brebes, Rembang, Tuban, Rejanglebong, Solok, Tanah Datar, Karo, Simalungun, Banyuasin, Pagar Alam. Usahatani cabe yang berhasil memang menjanjikan keuntungan yang menarik, tetapi untuk mengusahakan tanaman cabe diperlukan keterampilan dan modal cukup memadai. Untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan diperlukan keterampilan dalam penerapan pengetahuan dan teknik budidaya cabe sesuai dengan daya dukung.
Teknik Budidaya Tanaman Cabai
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Tanaman cabe cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air, pH tanah yang ideal sekitar 5 - 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April). Untuk memperoleh harga cabe yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada risiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe (300-500 gr biji).
Adapun cara atau tehnik budidaya cabe merah adalah sebagai berikut:
Pemilihan Bibit cabe merah
Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus, bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari).
Cara Tanam cabe merah
Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda. Kemudian plastik polibag dilepas. Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram.


BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Cabe merah merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabe mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan. Cabe (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan.
Budi daya cabe merah bukanlah yang mudah dilakukan jika kita menginginkan hasil yang lebih maksimal. Dalam budidaya cabe merah banyak hal yang harus diperhatikan supaya hasil panen yang kita peroleh lebih baik, mulai dari pemilihan lahan sampai cara panen.
Saran
Dengan adanya makalah ini, kiranya dapat menambah pengetahuan kita dalam pembudidayaan cabe, bukan hanya asal tanam, akan tetapi bagaimana agar kita bisa memperoleh hasil panen yang lebih maksimal.
Selanjutnya dengan pengetahuan yang kita miliki, hendaknya kita bisa berbagi pengetahuan kepada masyarakat kita terutama mereka yang membudidayakan cabe, dengan harapan mereka bisa memperoleh hasil yang maksimal.


DAFTAR PUSTAKA
Hadiyanto, Iskandar. 2005. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Balai Pustaka (Persero): Jakarta.
Samadi.1997. Bertanam Cabai. UPT Mataram University press: Mataram.
Tabin, Suryanto.2010. Terobosan Teknologi Pemupukan Dalam Era Pertanian Organik. Kanisius: Yoyakarta.

  MATERI V. SELEKSI
BAB I

1.1 Latar Belakang

Pengetahuan tentang besarnya keragaman genotipe dalam suatu populasi merupakan modal penting dalam program pemuliaan tanaman, karena keragaman genotipe mencerminkan besarnya potensi dan kecepatan dari populasi tersebut untuk menerima perbaikan. Populasi dengan keragaman genotipe rendah mencirikan bahwa anggota populasi tersebut secara genetis relatif homogen sehingga seleksi untuk mendapatkan tanaman unggul akan sulit dilakukan. Untuk dapat menentukan besarnya kergaman genotipe suatu populasi perlu diketahui komponen-komponen yng menyusun keragaan individu tanaman penyusun populasi.
Persilangan akan mengakibatkan timbulnya populasi keturunan yang bersegregasi. Adanya segregasi ini berarti ada perbedaan genetik pada populasi, sehingga merupakan bahan seleksi, guna meningkatkan sifat. Generasi keturunan yang bersegresi dapat berbeda karena perbedaan macam persilangan.
Keragaman yang dapat diamati pada suatu individu tanaman merupakan perwujudan dari faktor genetis yang menjadi ciri bawaan dari tanaman tersebut (genotipe) dan faktor lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya.
Dimana P adalah keragaman yang dapat diamati (fenotipe), G adalah ciri genetis tanaman (genotipe) dan E adalah lingkungan. Oleh karena hanya P yang dapat diukur secara langsung maka untuk mengetahui besarnya G dan Enviroment diperlukan penguraian. Penguraian fenotipe menjadi komponen G dan Enviroment tidak mungkin dilakukan berdasarkan pengamatan langsung individu tanaman, karena G maupun Enviroment tidak dapat diamati secara langsung. Karena itu penguraian perlu dilakukan berdasarkan populasi tanaman dan hubungan diatas menjadi:
h2 =  =
keterangan:
h2            = heritabilitas
s2g       = ragam genetik
s2p       = ragam fenotip
s2e        = ragam lingkungan
Teknik analisis yang paling banyak digunakan untuk tujuan pemuliaan tanaman atau tujuan diatas adalah teknik analisis varians yang diikuti dengan penguraian komponen varians. Berdasarkan analisis varians tersebut dapat diketahui besar dan kebermaknaan genotipe, namun belum diketahui besarnya sumbangan keragaman genotipe tersebut terhadap keragaman fenotipenya. Oleh karena itu, ada satu parameter genetis yang masih perlu ditaksir, yaitu heretabilitas ( h2 ) atau daya waris (dalam hal ini adalah heretabilitas dalam arti luas).
Heretabilitas merupakan nilai relatif yang menunjukkan besarnya sumbangan keragaman genotipdan dapat dinyatakan sebagai berikut, nilai h2 menunjukkan besarnya potensi dari populasi untuk menerima perbaikan dan     memiliki nilai antara 0 dan 1, jika h2 = 1 berarti bahwa keragaman fenotipe seluruhnya timbul karena adanya perbedaan genotipe, sebaiknya jika h2 = 0 berarti keragaman fenotipe seluruhnya timbul karena pengaruh lingkungan yang beragam. Kriteria heretabilitas : 0 – 20 (rendah) ; 20 – 50 (sedang) ; >50 (tinggi).

1.2 Tujuan

Mempelajari cara penafsiran besarnya keragaman genotipe dan heretabilitas arti luas dari sifat-sifat tanaman.
1.3 Rumusan masalah
1. Bagaimana supaya bisa mengetahui komposisi genetik dari populasi tanaman dan segregasi keturunannya
2. Bagaimana cara mengetahui seleksi terhadap perubahan genetik pada komposisi suatu populasi tanaman allogam dari satu generasi ke generasi selanjutnya
3. Apa saja yang dapat mempengaruhi frekuensi gen
1.4 Manfaat
1.Dapat mengetahui keturunan hasil persilangan tetua tanaman yang menyerbuk silang
2. Bisa mengetahui adanya perubahan frekuensi yang di sebabkan oleh seleksi dengan melakukan simulasi perkawinan tiruan
3. Dapat dan bisa membuat seleksi persilangan buatan dengan mengambil manik secara acak. Dapat mengetahui seleksi seleksi terhadap frekuensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Heritabilitasmerupakansuatutolakukur yang digunakandalamsuatuseleksi, yaitu untuk mengetahui kemampuan tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunannya (E.J Warwick, 1995).
Heritabilitas adalah parameter genetik yang mengukur kemampuan suatu genotype dalam suatu populasi tanaman untuk mewariskan karakter yang dimiliki atau suatu pendugaan yang mengukur sampai sejauh mana variabilitas penampilan suatu genotype dalam suatu populasi tanaman yang disebabkan oleh peranan factor genetic (Poelman dan Sleeper, 1995).
Heritability refers to the role of genetic and environmental factors to the inheritance of a character plants (Allard, 1960).
Untuk mengetahui ada tidaknya kemajuan seleksi (genetic gain) dari populasi hasil seleksi, untuk menentukan metode seleksi yang akan digunakan., un tuk menentukan waktu pelaksanaan seleksi pada generasi awal atau generasi tertentu (Kuswanto, 2012).
Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya pengukuran heritabilitas antara lain karakteristik populasi, sampel genotip yang diteliti, metode perhitungan, seberapa luasnya evaluasi genotip, adanya ketidak seimbangan pautan yang terjadi, dan tingkat ketelitian selama penelitian (Fehr,W.R,1987).
Heritabilitas adalah parameter genetik yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu genotipe  dalam populasi tanaman dalam mewariskan karakter yang dimilikinya atau suatu pendugaan yang mengukur sejauh mana variabilitas penampilan suatu genotipe dalam populasi terutama yang disebabkan oleh peranan faktor genetik (Poehlman dan Sleeper, 1995).
Heritabilitas suatu karakter penting diketahui, terutama untuk menduga besarnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta pemilihan lingkungan yang sesuai untuk proses seleksi (Susanto dan Adie, 2005).
Keragaman adalah perbedaan yang ditimbulkan dari suatu penampilan populasi tanaman. Keragaman genetik merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemuliaan tanaman. Adanya keragaman genetik dalam suatu populasi berarti terdapat variasi nilai genotipe antar individu dalam populasi tersebut (Kusandriani dkk. 1990).
Sumber keragaman genetik didapat dari introduksi, persilangan, mutasi, atau melalui proses transgenik. Hasil persilangan merupakan sumber keragaman yang umum dilakukan dibandingkan menciptakan sumber keragaman dengan cara lainnya. Keragaman menetukan efektifitas seleksi. Seleksi akan efektif apabila keragaman luas. Selain keragaman, heritabilitas juga menetukan efektifitas suatu seleksi. Heritabilitas merupakan suatu parameter genetik yang mengukur kemampuan suatu genotipe dalam populasi tanaman untuk mewariskan karakteristik-karakteristik yang dimiliki. Makin tinggi nilai heritabilitas suatu sifat maka makin besar pengaruhgenetiknya dibanding lingkungan (Poespadorsono,1988).


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Tabel Hasil Pengamatan
Table 3.1 Generasi I
Persilangan
Frekuensi
Total
Keturunan

AA
Aa
aa
AA x AA
2/16
2
2x(4)
-
-
AA x Aa
4/16
4
4x(2)
4x(2)
-
AA x aa
3/16
3
-
3x(4)
-
Aa x Aa
2/16
2
2x(1)
2x(2)
2x(1)
Aa x aa
4/16
4
-
4x(2)
4x(2)
aa x aa
1/16
1
-
-
1x(4)

Total
16
18
32
14
Genotip A =(18X2) + 32 = 68
Genotip a =(14X2) + 32 = 60

Tabel 3.2 Generasi ke II
Persilangan
Frekuensi
Total
Keturunan

AA
Aa
aa
AA x AA
1/16
1
1x(4)
-
-
AA x Aa
5/16
5
5x(2)
5x(2)
-
AA x aa
2/16
2
-
2x(4)
-
Aa x Aa
2/16
2
2x(1)
2x(2)
2x(1)
Aa x aa
5/16
5
-
5x(2)
5x(2)
aa x aa
1/16
1
-
-
1x(4)

Total
16
16
32
16
Genotip A =(16X2) + 32 = 64
Genotip a =(16X2) + 32 = 64

Tabel 3.3 Generasi ke III
Persilangan
Frekuensi
Total
Keturunan

AA
Aa
aa
AA x AA
1/16
1
1x(4)
-
-
AA x Aa
3/16
3
3x(2)
3x(2)
-
AA x aa
3/16
3
-
3x(4)
-
Aa x Aa
5/16
5
5x(1)
5x(2)
5x(1)
Aa x aa
3/16
3
-
3x(2)
3x(2)
aa x aa
1/16
1
-
-
1x(4)

Total
16
15
34
15
 Genotip A =(15X2) + 34 = 64
Genotip a =(15X2) + 34 = 64

Tabel 3.4 Generasi ke IV
Persilangan
Frekuensi
Total
Keturunan

AA
Aa
aa
AA x AA
0/16
0
0x(4)
   -
   -
AA x Aa
7/16
7
7x(2)
7x(2)
   -
AA x aa
0/16
0
  -
0x(4)
   -
Aa x Aa
5/16
5
5x(1)
5x(2)
5x(1)
Aa x aa
3/16
3
  -
3x(2)
3x(2)
aa x aa
1/16
1
  -
     -
1x(4)

Total
16
19
30
15
Genotip A =(13X2) + 30 = 68
Genotip a =(15X2) + 30 = 60


Tabel 3.5 Generasi keV
Persilangan
Frekuensi
Total
Keturunan

AA
Aa
aa
AA x AA
1/16
1
1x(4)
-
-
AA x Aa
4/16
4
4x(2)
4x(2)
-
AA x aa
0/16
0
-
0x(4)
-
Aa x Aa
6/16
6
4x(1)
6x(2)
6x(1)
Aa x aa
4/16
4
-
4x(2)
4x(2)
aa x aa
1/16
1
-
-
1x(4)

Total
16
18
28
18
Genotip A =(18X2) + 28 = 64
Genotip a =(18X2) + 28 = 64

3.2 Pembahasan
Dari hasil analisa diatas dari perlakuan tidak ada seleksi untuk perhitungan generasi ke 1 didapat Gen A = 68 dan Gen a = 60, generasi ke 2 Gen A= 64 dan Gen a= 64, generasi ke 3 Gen A= 64 dan Gen a= 64. Generasi ke 4 Gen A=68 dan Gen a= 60. Dan pada generasi terkahir didapatkan hasil Gen A=64 dan Gen a=64. Seleksi adalah salah satu prosedur dalam pemuliaan tanaman yang tetuanya merupakan dasar dari semua perbaikan tanaman. Sejak dimulainya usaha pertanian orang sudah menekankan seleksi genotip yang ditujukan untuk mengurangi hasil tanaman yang menyediakan bahan makanan semakin besar. Perbedaan fenotipenya dari tanaman budidaya dengan tanaman non domestifikasi atau tanaman-tanaman lainnya, menggambarkan besarnya tekanan seleksi pada tanaman-tanaman yang ada sekarang ini. Perubahan- perubahan kenampakan dapat dilihat pada morfologi tanaman, ukuran buah dan jumlahnya dan selanjutnya pada cara-cara perbanyakannya. Pelaksanaan pemuliaan yang dijalankan pada saat ini adalah melanjutkan usaha domestika, yang mengartikan seleksi sebagai suatu proses alam dan buatan, dimana individu-individu tanaman dipilih/disortir dari populasi campuran. Keberhasilan dari seleksi adalah tergantung dari keragaman genetic yang ada dan metode yang digunakan.
Metode-metode dalam pemuliaan tanaman yang sudah banyak memberikan hasil pada tanaman adalah:
1.      Seleksi massa
2.      Seleksi lini murni
3.      Hibridisasi
Seleksi massa adalah bila dalam sekelompok tanaman yang sama diseleksi dan hasil panen dicampur, tujuannya adalah untuk memperbaiki populasi tanaman dengan menyeleksi dan mencampur genotype-genotipe superior. Seleksi lini murni disebut juga seleksi galur murni, individu- individu yang dikembangkan dari penyerbukan sendiri dan tunggal, sedangkan hibridisasi adalah penyilangan 2 tetua untuk mendapatkan F1, dalam generasi selanjutnya diadakan seleksi diantara keturunan untuk memilih sifat kombinasi dari kedua tetuanya. 

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1.    Heretabilitas digunakan untuk mengetahui apakah pada sesuatu populasi terdapat keragaman genetik atau tidak.
2.    Sifat kuantitatif umumnya cenderung mempunyai heretabilitas tinggi, sebaliknya sifat kuantitatif mempunyai heretabilitas rendah.
3.    Dari hasil perhitungan yang dilakukan, ketahuai bahwa criteria Tinggi tanaman kedelai yang dinilai itu dipengaruhi oleh lingkungan yang memang beragam (pengaruh lingkungan yang besar)
4.    Nilai H2 menunjukkan besarnya potensi dari populasi untuk menerima perbaikan dan memiliki nilai antara 0 dan 1, jika H2 = 1 berarti keragaman fenotipe seluruhnya timbul karena adanya perbedaan genotipe, sebaiknya jika H2 = 0 berarti keragaman fenotipe seluruhnya timbul karena pengaruh lingkungan yang beragam.
5.    Populsi dengan heretabilitas tinggi memungkinkan dilakukan seleksi, sebaliknya dengan heretabilitas rendah masih harus dinilai tingkat rendahya ini, yaitu bila terlalu rendah hampir mendekati 0, berarti tidak akan banyak berarti pekerjaan seleksi tersebut.
6.    Kriteria heretabilitas: 0 – 20 (rendah); 20 – 50 (sedang); >50 (tinggi).

4.2 Saran
1.      Buat asisten untuk praktikum pemuliaan tanaman terutama heritabilitas lebih di prepare lagi sebelum menanam di kebun praktikum budidaya pertanian.
2.      Untuk bahan yang akan di gunakan juga harusnya lebih di siapkan lagi agar untuk perhitungan data lebih mudah.
3.      Sebelum menanam sebaiknya asisten mendata varietas per kelompok yang akan di tanam.
4.      Buat asisten lebih memberi penjelasan lebih rinci lagi sebelum melaksanakan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Allard. 1960. Plant Brading Technique. Lowa State University Press Poehlman, J. M. and D. A. Sleeper. 1995.Breeding Field Crops. Iowa State University Press. USA.
Fehr, W.R. 1987.Principles of Cultivar Development.Vol 1. Theory and Technique.Lowa State University.New York.
Kuswanto. 2012. Heritabilitas/lecture. Malang: Universitas Brawijaya.
Poespadorsono. S. 1998. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. PAU Institut Pertanian Bogor. Bogor
Susanto, G.W.A. dan M.M. Adie. 2005.Pendugaan heritabilitas hasil dan componen hasil galur-galur kedelai di tiga lingkungan. Prosiding Simposium PERIPI 5 – 7 Agustus 2004. hal : 119 – 125.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN DASAR ILMU TANAH (KONSISTENSI TANAH)

Agroklimatologi Pengukuran Evaporasi

LAPORAN DASAR ILMU TANAH (PENETAPAN pH, BAHAN ORGANIK, DAN KAPUR)